Showing posts with label Astronomi. Show all posts
Showing posts with label Astronomi. Show all posts

Galaksi Bimasakti, Rumah Kita Tercinta

April 24, 2018 Add Comment

Sejauh yang bisa diteliti dan diukur dengan detail oleh manusia, terdapat tak kurang dari seratus miliar galaksi di alam semesta! Galaksi itu apa sih?

Pengertian sederhana dari galaksi adalah, sekumpulan material luar angkasa yang terdiri dari bintang, gas, debu, dan benda langit lainnya terikat oleh sebuah sistem gravitasi yang sama.

Sistem tata surya kita, dengan matahari sebagai pusatnya, merupakan bagian dari sebuah galaksi yang diberi nama Bimasakti (atau Milky Way, dalam bahasa Inggris).

Seperti halnya banyak galaksi lain, Bimasakti berbentuk spiral, dengan dua lengan utama (major arms), dan dua lengan minor (minor arms).

Dimana letak tata surya kita?

Matahari dan planet-planet pengiringnya terdapat di salah satu lengan minor bernama Orion. Lengan (atau sabuk) Orion ini terletak di antara dua lengan utama yaitu lengan Perseus dan lengan Sagitarius.

Bimasakti terdiri dari miliaran bintang yang, banyak di antaranya, lebih besar dan lebih tua dari matahari kita. Diameter Bimasakti adalah 100.000 tahun cahaya dan tebalnya seribu tahun cahaya.

Di pusat galaksi ini dipercaya terdapat lubang hitam yang sangat masif, orang-orang menyebutnya dengan “supermassive black hole“.

Apakah galaksi bergerak? Jawabannya adalah iya. Semua galaksi bergerak, baik gerak memutar (spinning), ataupun gerak berjalan melintasi alam semesta. Dalam perjalannya ini diperkirakan galaksi Bimasakti akan menabrak galaksi tetangga terdekatnya bernama Andromeda.

Dengan menghitung jarak dan kecepatan laju galaksi, tabrakan besar itu diperkirakan akan terjadi empat miliar tahun yang akan datang.

Namun pada masa itu diperkirakan pula matahari telah mengalami evolusi dan membesar menjadi bintang merah raksasa (red giant). Hal ini tentu saja membuat Bumi sudah bukan lagi planet yang bisa ditinggali.


Info tambahan

Seberapa jauh satu tahun cahaya itu? Satu tahun cahaya menunjukkan jarak yang bisa ditempuh oleh cahaya dalam ruang hampa dalam satu tahun.

Sebagai gambaran, satu detik cahaya itu 300.000 kilometer (ya, karena cepat rambat cahaya adalah 300.000 kilometer per detik).

Itu baru satu detik, sedangkan satu tahun terdiri dari 525.600 menit, yang berarti 31.536.000 detik.

Jadi berapa kilometer jarak yang ditempuh cahaya selama 31.536.000 detik? Tinggal dikalikan saja dengan 300.000. Hasilnya hampir 9,5 triliun kilometer!

Nah, sudah ada gambaran kan, 1 tahun cahaya adalah mendekati 9,5 triliun kilometer. Sekarang bayangkan berapa luasnya galaksi Bimasakti yang diameternya 100.000 tahun cahaya!



Sumber:
Sains.me

Bumi Siap Lintasi Bekas Jalur Orbit Komet Halley, Hujan Meteor Selama Sebulan Akan Terjadi

April 03, 2016 Add Comment
Citra komposit hujan meteor Eta Aquarid tahun 2013. Kredit: NASA
Info Astronomy - Siapkan kursi santai Anda dan seduhlah secangkir kopi. Mulai pertengahan April, dari tengah malam hingga Subuh, kita berkesempatan melihat peristiwa hujan meteor. Tidak, peristiwa ini tidak berbahaya. Meteor-meteor yang melintas akan terbakar habis di atmosfer karena berukuran sangat kecil.

Dikutip dari EarthSky.org, hujan meteor tersebut bernama Eta Aquarid, akan mulai terlihat sekitar tanggal 20 April dan akan terus terlihat sampai 21 Mei. Waktu terbaik untuk melihat hujan meteor Eta Aquarid ini adalah pada 1 sampai 5 Mei, ketika langit akan cukup gelap karena Bulan akan memasuki fase Bulan Baru.

Hujan meteor Eta Aquarid ini berasal dari puing-puing Komet Halley. Bumi memasuki bekas jalur orbit komet bersejarah ini sehingga puing-puing kometnya tertarik gravitasi Bumi lalu memasuki atmosfer dan terbakar. Mereka disebut Eta Aquarid karena seolah muncul rasi bintang Aquarius. Tapi Anda tidak perlu terus-menerus mengamati rasi bintang tersebut, sebab meteor akan muncul dari segala arah.

Intensitas hujan meteor Eta Aquarid di Indonesia cukup baik. Diperkirakan akan ada 30 meteor per jam jika Anda mengamati di lokasi yang langitnya bebas dari polusi, jauh dari lampu kota dan cuaca yang cerah. Anda tidak perlu menggunakan teropong atau teleskop untuk mengamatinya. Karena gerakan meteor yang super cepat, mengamati dengan mata telanjang adalah yang paling disarankan.

Seperti biasa untuk melihat hujan meteor, waktu terbaik untuk mengamatinya adalah mulai tengah malam, ketika langit sudah benar-benar gelap. Anda juga perlu adaptasi mata dengan langit selama setidaknya 30 menit untuk mendapatkan meteor pertama Anda. Jika baru mengamati 5 menit dan tidak melihat meteor sama sekali, ya jelas saja.

Kami akan menyelenggarakan star party untuk mengamati hujan meteor Eta Aquarid ini pada tanggal 1 hingga 3 Mei 2016 mendatang di Dataran Tinggi Dieng. Ingin ikut? Silakan daftarkan diri Anda di sini: JejakLangit.com/tour

Jepang Hilang Kontak Dengan Satelit Peneliti Lubang Hitam

April 02, 2016 Add Comment
Ilustrasi satelit ASTRO-H (Hitomi). Kredit: Japan Aerospace Exploration Agency (JAXA)
Info Astronomy - Japan Aerospace Exploration Agency (JAXA) sedang kebingungan untuk menjelaskan apa yang terjadi pada satelit Hitomi, mereka hilang kontak, yang mungkin saja satelit yang mengemban tugas khusus yakni meneliti lubang hitam dan sejarah gugus galaksi telah hancur di luar angkasa.

JAXA telah mengkonfirmasi bahwa mereka telah kehilangan kontak dengan satelit Hitomi pada hari Sabtu (26/3), komunikasi dengan satelit Hitomi telah terputus saat ini. Dan bahkan setelah membentuk tim darurat untuk mencoba berkomunikasi dengan Hitomi, JAXA mengatakan mereka belum mampu mengetahui keadaan Hitomi saat ini.

Namun, menurut sebuah analisis dari US Joint Space Operations Centre pada 26 Maret 2016, satelit Hitomi tampaknya telah terpisah menjadi lima bagian. Lembaga Antariksa Jepang mengatakan pihaknya akan mengamati satelit Hitomi menggunakan radar di Kamishaibara Space Guard Center (KSGC) dan teleskop di Bisei Space Guard Centre (BSGC), yang keduanya berada di Negeri Sakura.

Sementara JAXA masih berusaha untuk memulihkan komunikasi dengan satelit Hitomi, tidak ada yang mengetahui dengan jelas dalam memahami apa yang menyebabkan Hitomi bisa terpisah menjadi lima bagian.

Ini merupakan sebuah kerugian besar untuk program luar angkasa Jepang, yang meluncurkan satelit Hitomi (juga dikenal sebagai satelit ASTRO-H) 17 Februar 2016. Hitomi adalah satelit yang cukup canggih dengan dilengkapi teleskop sinar-X dan detektor cahaya sinar gamma, serta telah dirancang untuk mempelajari gugus galaksi, lubang hitam supermasif, dan bintang neutron.

Menurut astronom Jonathan McDowell dari Harvard-Smithsonian Centre for Astrophysics, yang bekerja untuk Observatorium Antariksa Chandra, mungkin Hitomi menderita semacam "peristiwa energik", seperti kebocoran gas atau ledakan baterai, yang bisa membuat badannya terpisah-pisah sehingga hilang kontak.

Jika hipotesis ini benar, hal tersebut mungkin membuat antena komunikasi Hitomi tidak menunjuk ke arah yang benar, yang berakibat pada hilangnya komunikasi dengan JAXA. Lebih buruk lagi, jika kontrol atas satelit tidak dapat kembali, panel surya pada satelit Hitomi mungkin tidak dapat mengambil cahaya dari Matahari, yang berarti satelit ini bisa kehilangan seluruh daya sebelum upaya perbaikan selesai dilakukan.

Namun menurut ahli satelit lain, Goh Cher Hiang dari National University of Singapore, peristiwa dramatis seperti ledakan baterai atau kebocoran gas sangat langka terjadi, yang berarti ada juga kemungkinan bahwa faktor eksternal, seperti potongan-potongan kecil dari sampah antariksa mungkin menabrak Hitomi.

Sementara JAXA sedang mencari jawaban dan mencari cara untuk mengembalikan komunikasi dengan satelit Hitomi, tidak semua harapan mereka hilang. JAXA sebelumnya telah kembali berkomunikasi dengan satelit lain yang telah berada di luar angkasa bernama Akatsuki, yang pernah hilang kontak pada tahun 2010.

Ini tidak hanya akan menjadi kerugian bagi Jepang. Satelit Hitomi ini dibangun bersama dengan NASA, Lembaga Antariksa Kanada, dan Agensi Antariksa Eropa, sehingga para ilmuwan dan investor untuk misi ini juga mau tak mau ikut-ikutan rugi.

Supernova Paling Terang yang Pernah Ditemukan

March 04, 2016 Add Comment
Supernova paling terang yang pernah dilihat telah dikonfirmasi, tetapi masih membuat para astronom bingung memikirkan bintang jenis apa yang menyebabkan supernova yang sangat terang ini.


Supernova menandai kematian dari sebuah bintang yang runtuh ke dalam diri mereka sendiri dan meledak. Mereka adalah salah satu obyek yang paling terang dan paling energik di alam semesta.

Yang satu ini, yang disebut ASASSN-15lh, sekitar 3,8 miliar tahun cahaya jauhnya, 200 kali lebih kuat daripada kebanyakan supernova, dan dua kali lebih terang dari pemegang rekor sebelumnya. Supernova ini bersinar 20 kali lebih terang dari output gabungan dari Bima Sakti dengan 100 miliar bintang, dan dalam enam bulan terakhir, telah memuntahkan energi sebanyak 10 kali yang dimuntahkan matahari seumur hidup, kata Krzysztof Stanek dari Ohio State University, co-principal investigator dari All Sky Automated Survey for SuperNovae (ASAS-SN).

"Supernova yang satu ini benar-benar luarbiasa" katanya. "Jika supernova ini berada di galaksi kita sendiri, maka ia akan bersinar lebih terang dari bulan purnama; tidak akan ada malam, dan akan mudah terlihat pada siang hari. "

Krzysztof Stanek melihat outburst pada 14 Juni saat meneliti gambar teleskop sambil minum kopi pagi, dan mengingatkan seluruh tim ASAS-SN, termasuk Subo Dong di Kavli Institut Astronomi dan Astrofisika di Universitas Peking. Dong cepat mengisyaratkan jaringan astronom amatir yang membantu tim mengkonfirmasi mungkin supernova, dan menerima beberapa gambar malam itu.



Supernova ini tampaknya berada dalam sebuah galaksi tua yang besar, lebih besar dan lebih terang dari Bima Sakti, dan ini hal yang tidak biasa karena beberapa supernova superluminous lain yang dikenal ditemukan di galaksi muda yang kecil dan redup. Supernova ini juga jauh lebih panas dari ledakan bintang lainnya.

Mammoth atau Magnetar

Keanehan ini bukan berarti para astronom tidak benar-benar yakin apa itu, kata Stanek. "Analoginya adalah, kita telah mempelajari gajah, dan kami telah menemukan gajah terbesar yang pernah ada," katanya. "Ada kemungkinan itu bukan gajah, tapi mammoth, peninggalan dari alam semesta yang lebih awal"

Mungkin itu adalah objek eksotis yang berbeda yang disebut magnetar, jenis khusus dari bintang neutron dengan medan magnet yang kuat. Tapi ASASSN-15lh lebih kuat daripada magnetar yang paling mungkin, sehingga tampaknya tidak mungkin itu adalah magnetar, kata Steve Rodney di University of South Carolina.

Kemungkinan lainnya adalah, supernova ini adalah sisa-sisa bintang yang dikoyak dan dilahap oleh lubang hitam supermasif, atau supernova biasa yang sedang diperbesar oleh lensa kosmik, sebuah efek gravitasi. Namun kedua teori itu juga tampaknya tidak mungkin, karena supernova tersebut tidak memiliki hidrogen dan helium yang akan menjadi tanda dari lubang hitam yang sedang 'makan', dan jarak supernova ini juga relatif dekat, sehingga tidaklah masuk akal jika supernova ini diperbesar oleh sebuah lensa gravitasi.

ASASSN-15lh baru saja bergerak ke belakang matahari, tapi astronom telah mengambil data baru dengan menggunakan Swift Gamma Ray Burst Explorer. Selanjutnya para astronom menunggu data dari pengamatan dari Hubble yang diharapkan akan memberikan astronom wawasan yang lebih dalam mengenai asal-usul obyek aneh itu. Stanek mengatakan dia ingin mendengar teori-teori baru tentang bintang jenis apa itu sebenarnya.

"Ketika Anda melihat sesuatu yang belum pernah terlihat sebelumnya, Anda merasa senang," katanya. "Ini sesuatu yang tidak sering terjadi"

7 Fakta Luar Biasa Galaksi Bima Sakti yang Kanibal

December 23, 2015 Add Comment
Galaksi Bima Sakti yang tersusun atas puluhan tatasurya itu pun mempunyai sejarah yang menarik sekaligus 'kelam' yang bisa membuat manusia takjub bahkan membantu memprediksi apa yang terjadi dengan nasib tatasurya tempat bumi kita berada di masa depan.

Ada banyak fakta mengejutkan yang tersimpan di balik gugusan bintang dengan diameter 100.000-120.000 tahun cahaya ini.


1. Galaksi Bima Sakti adalah Kanibal



Ternyata Galaksi Bima Sakti tidak lah 'sebaik' dan seindah yang kita bayangkan. Untuk bisa sebesar saat ini, Galaksi Bima Sakti ternyata terus aktif memakan galaksi lain yang ukurannya lebih kecil.

Salah satu galaksi yang diketahui pernah menjadi korban kanibalisme galaksi kita adalah galaksi kerdil Sagitarius.

Selain itu, saat ini Galaksi Bima Sakti tengah 'memakan' galaksi Canis Major dengan sedikit demi sedikit membajak bintang-bintang milik galaksi kerdil tersebut.



2. Hanya 10 Persen Bagian Galaksi Bima Sakti yang Terlihat


Percaya atau tidak, gambar-gambar yang memperlihatkan Galaksi Bima Sakti yang biasa muncul di internet hanya mewakili 10 persen total massanya.

Sekitar 90 persen bobot Galaksi Bima Sakti ternyata diisi oleh 'dark matter' atau zat gelap yang tidak terlihat. Dark matter jugalah yang membuat manusia bisa melihat cahaya-cahaya yang dikeluarkan oleh bintang ketika sedang melintas di dekatnya.



3. Galaksi Bima Sakti Menjadi Rumah 200 Miliar Bintang

Klik gambar untuk memperbesar

Galaksi kita memang bukan galaksi dengan ukuran terbesar yang ada di alam semesta. Dengan diameter 100.000-120.000 tahun cahaya, Galaksi Bima Sakti 'hanya' disesaki oleh sekitar 200 miliar bintang.

Namun, terdapat perhitungan lain yang menyatakan bila bintang di Galaksi Bima Sakti mencapai 400 miliar. Perbedaan jumlah ini muncul akibat kelahiran atau kematian bintang saat terjadi supernova. Dalam satu tahun, Galaksi Bima Sakti tercatat dapat melahirkan 7 bintang baru.



4. Semua Gambar Galaksi Bima Sakti adalah Perkiraan Saja


Salah satu rahasia yang mungkin tidak disadari oleh banyak orang adalah 'kepalsuan' foto Galaksi Bima Sakti.

Sejatinya, manusia dan teknologi canggih yang dimilikinya tidak mampu memotret Galaksi Bima Sakti dari atas, karena bumi kita sendiri adalah bagian dari Bima Sakti dan berjarak 26.000 tahun cahaya dari pusatnya.

Jika diibaratkan, memotret seluruh Galaksi Bima Sakti dari atas akan seperti berusaha memotret sebuah stadion sepak bola dari dalam stadion itu sendiri. Jadi, gambar-gambar atau foto Galaksi Bima Sakti yang kita lihat selama ini adalah buatan para ilustrator, tentunya dengan menggunakan perhitungan yang kurang lebih menyerupai aslinya.



5. Umur Galaksi Bima Sakti Sama dengan Umur Alam Semesta


Ilmuwan memperhitungkan bila umur dari Galaksi Bima Sakti adalah sekitar 13,6 miliar tahun, atau hampir sama dengan umur alam semesta yang diketahui sekitar 13,7 miliar tahun.

Hal ini diperkuat dengan penemuan bintang di gugusan bintang 'globular'. Bintang tersebut diklaim menjadi yang tertua di Galaksi Bima Sakti dan mempunyai umur hampir setua alam semesta.



6. Ada Lubang Hitam Raksasa di Tengah Galaksi Bima Sakti


Hampir semua galaksi di alam semesta diketahui mempunyai lubang hitam di bagian tengahnya, tak terkecuali Galaksi Bima Sakti.

Lubang hitam atau 'blackhole' yang berada di pusat galaksi kita tercatat mempunyai bobot sekitar 40.000 matahari dan mempunyai panjang 22,5 juta kilometer. Blackhole bernama Sagitarius A* tersebut masih terus melahap semua bintang atau planet yang ada di dekatnya alias sekitar pusat Galaksi Bima Sakti.



7. Galaksi Bima Sakti Sedang Bergerak Mengelilingi Pusat Alam Semesta



Seperti halnya bumi yang mengelilingi matahari, Galaksi Bima Sakti juga terus bergerak mengelilingi pusat alam semesta atau Cosmic Microwave Background (CMB). CMB sendiri adalah sisa radiasi dari ledakan Big Bang yang dipercaya memulai pembentukan alam semesta.

Namun, jangan samakan kecepatan gerak Galaksi Bima Sakti dengan bumi. Sebab, galaksi kita sekarang tengah bergerak dengan kecepatan 600 kilometer per detik. Dengan kecepatan itu, Galaksi Bima Sakti mampu melahap bintang atau apa saja yang ada di jalur orbitnya.


Sumber :
terungkaplagi


Komet van Java: Lintang Kemukus dan Legenda Keris Pusaka Majapahit

November 06, 2015 Add Comment
Saya masih duduk di kelas satu atau kelas dua Sekolah Dasar (SD) ketika komet Halley kembali mendekati Matahari tahun 1986 lalu. Peristiwa hadirnya komet Halley tentunya membuat masyarakat cukup heboh, dan muncullah artikel-artikel dan berita-berita mengenai komet di berbagai media massa. Kakak-kakak kelas saya di sekolah bahkan menerbitkan majalah dinding yang memuat informasi tentang komet, dengan gambar-gambar yang sangat menarik.


Komet Halley dipotret oleh W. Liller dari Pulau Paskah tanggal 8 Maret 1986. Sumber: Wikipedia

Sebagai anak SD yang masih belum banyak memahami sains dan belum bisa berpikir kritis, saya menyerap setiap informasi tanpa filter, terutama informasi yang bombastis. Salah satu informasi bombastis yang saya terima saat itu adalah bahwa terlihatnya komet di langit adalah suatu pertanda akan terjadinya hal-hal yang buruk, misalnya wabah penyakit, kematian, dan becana. Sebagai anak kecil tentunya saya ketakutan. Saya bahkan takut keluar rumah ketika malam hari. Untunglah orang tua saya memiliki banyak cara dan literatur untuk menjelaskan hal ini kepada saya, tentunya dengan bahasa yang dapat dipahami oleh seorang anak kelas satu SD dan dengan gambar-gambar yang mendukung.

Rasa takut masa kecil ini memang sudah hilang begitu saya mengetahui apa komet yang sebenarnya, namun rasa penasaran saya tetap ada. Apa yang membuat masyarakat atau teman-teman saya ketika itu mengatakan bahwa kemunculan komet adalah pertanda buruk? Maka mulailah saya mencari tahu asal-usul ceritanya.

Sebagai catatan, saya pernah mendengar berbagai versi legenda-legenda masyarakat Jawa mengenai komet. Dalam tulisan kali ini saya akan membahasnya dari sisi legenda Keris Pusaka Kerajaan Majapahit.


Komet: Fakta Sains

Sebagai pembuka, mari kita bahas secara singkat mengenai komet dari sudut pandang ilmiah. Kata komet berasal dari bahasa Latin cometa atau cometes, suatu istilah yang ternyata diturunkan dari bahasa Yunani. Arti kata cometaatau cometes adalah 'berambut panjang'. 'Rambut panjang' dalam penamaan ini merujuk pada 'ekor' atau cahaya terang memanjang yang terlihat dari Bumi ketika komet melintas.


Komet saat mendekati Matahari, akan terbentuk ekor komet dari gas dan debu. Sumber: Wikipedia


Secara sederhana, komet adalah suatu benda langit yang berukuran kecil yang juga mengelilingi Matahari. Nukleus atau inti dari komet terdiri dari batu keras, debu, es (es air, H2O), dan gas-gas beku seperti karbon dioksida (CO2), karbon monoksida (CO), metan (CH4) dan ammonia (NH3). Ketika komet berada dalam posisi terjauh dari Matahari (aphelion) komet tak ubahnya sebuah batu berlapis es dan gas beku biasa. Komet tidak memiliki cahayanya sendiri, dan bahkan tidak berekor sebagaimana ketika komet mendekati Matahari dan melintasi Bumi. Karena ukurannya yang kecil, komet dalam kondisi seperti ini sulit untuk diamati dari Bumi. Namun ketika komet mendekati Matahari (perihelion) temperatur permukaan komet akan meningkat seiring dengan meningkatnya energi panas matahari yang diterima oleh komet. Akibatnya, bahan-bahan beku mulai mencair dan menguap, membentuk semacam lapisan “awan” di sekeliling nukleus komet yang disebut coma (yang berarti ‘rambut’). Didorong oleh tekanan radiasi Matahari dan angin Matahari, bahan-bahan volatil ini terdorong ke luar dengan arah yang menjauhi Matahari, membentuk ekor. Dalam situasi-situasi tertentu, kita dapat mengamati fenomena jet di permukaan komet, dimana pemanasan yang tidak merata pada permukaan komet mengakibatkan gas-gas yang baru terbentuk “meledak” dari permukaan komet.

Perlu kita catat bahwa pada dasarnya komet memiliki dua ekor, yaitu ekor debu dan ekor gas. Meskipun kedua ekor ini sama-sama menjauhi Matahari, namun keduanya memiliki sudut arah yang berbeda. Ekor gas umumnya lurus, searah dengan arah angin Matahari sesuai posisi komet saat itu, namun ekor debu akan sedikit lebih melengkung.


Komet van Java: Komet dalam Budaya Jawa 

Dalam bahasa Jawa komet dikenal dengan nama Lintang Kemukus, yang berarti bintang berekor. Tulisan ini akan membahas legenda komet yang berkaitan dengan sejarah Indonesia, yaitu sejarah Kerajaan Majapahit.

Kita semua tentunya pernah mendengar tentang Kerajaan Majapahit dari pelajaran sejarah kuno Indonesia. Kerajaan Majapahit (1293 – 1527) adalah salah satu kerajaan terbesar dalam sejarah Indonesia. Wilayah kerajaan Majapahit sangat luas, yang bila dilihat dari kacamata geografi modern meliputi Indonesia secara keseluruhan, Malaysia, Singapura, Brunei, Thailand, Timor Leste dan Filipina. Majapahit mencapai masa kejayaan di bawah pemerintahan Raja Hayam Wuruk dan patihnya yang terkenal yaitu Gadjah Mada.

Dalam kehidupan bernegara di Majapahit, kerajaan tersebut terpecah menjadi dua golongan, yaitu golongan atas yang terdiri dari anggota kerajaan, keluarga bangsawan dan orang-orang kaya, serta golongan bawah yang terdiri dari rakyat jelata. Perbedaan dan perselisihan di antara kedua golongan ini begitu besar sehingga mengancam persatuan dan kesatuan Majapahit ketika itu. Untuk mengatasi masalah ini, dipanggilah sekitar seratus orang Empu (orang bijak, pembuat keris) untuk membuat satu keris sakti untuk mempersatukan bangsa.

Kersi istimewa tersebut dibuat dari bahan yang diambil dari berbagai daerah dan dinamai Kyai Condong Campur. Nama tersebut dipilih sesuai dengan tujuannya. Kata 'condong' dalam bahasa Jawa kuno (yang mungkin sudah diserap menjadi bahasa Indonesia) berarti 'cenderung/lebih mendekati/mengarah pada…'. Sementara 'campur' berarti 'menjadi satu' atau 'persatuan'. Dengan demikian, arti nama keris ini kurang lebih adalah 'pembawa persatuan'.

Masyarakat Majapahit (dan masih diyakini oleh masyarakat Jawa masa kini) meyakini bahwa setiap keris pusaka memiliki kekuatan spiritual dan supernatural, bahkan memiliki karakternya sendiri-sendiri. Demikian pula dengan keris Kyai Condong Campur. Keris tersebut diharapkan memiliki karakter pemersatu, namun betapa terkejutanya para Empu pembuat keris ketika mengetahui bahwa Kyai Condong Campur memilki karakter yang jahat dan ingin menguasai.

Pada masa itu, setiap golongan memiliki keris yang menjadi simbol golongan mereka. Golongan Atas memiliki keris pusaka yang bernama Keris Sabuk Inten (nama yang berarti 'ikat pinggang permata/intan') dan golongan bawah memiliki keris pusaka bernama Keris Sengkelat. Nama 'sengkelat' diyakin berasal kari kata-kata Jawa sengkal atine yang berarti 'hati yang berat/lelah/kecewa', dikaitkan dengan kondisi hati masyarakat kelas bawah yang penuh kekecewaan atas kondisi kehidupan mereka yang berat. Keris Sabuk Inten merasa terancam dengan kehadiran Keris Kyai Condong Campur, maka Kersi Sabuk Inten menantang Keris Kyai Condong Campur untuk bertarung.

Setelah melalui pertarungan yang sengit, Keris Sabuk Inten kalah dalam pertarungan tersebut. Mengetahui karakter jahat Keris Kyai Condong Campur, Keris Sengkelat akhirnya bertarung melawan Kyai Condong Campur meskipun sebenarnya ia segan bertarung. Di luar dugaan, Keris Sengkelat berhasil mengalahkan Kyai Condong Campur yang terkenal sakti. Keris Kyai Condong Campur amat murka kareka kekalahannya. Dalam kemarahannya Keris Kyai Condong Campur bersumpah bahwa ia akan kembali setiap 500 tahun untuk membawa ontran-ontran (bahasa Jawa, yang berarti 'kekacauan/bencana') ke tanah Majapahit. Setelah mengucapkan sumpahnya, Keris Kyai Condong Campur melesat ke angkasa, meninggalkan jejak cahaya terang. Inilah yang dikenal orang Jawa/Majapahit sebagai Lintang Kemukus, bintang berekor. Mungkin inilah sebabnya masyarakat Jawa hingga saat ini masih percaya bahwa penampakan komet di langit adalah pertanda akan adanya bencana.

Kisah tersebut memang termasuk kategori legenda atau mitos. Namun entah hanya karena kebetulan atau memang ada kebenaran di dalam cerita tersebut, perpecahan di dalam kerajaan Majapahit tidak pernah terjembatani. Perpecahan ini, tentunya dengan kontribusi berbagai faktor lain dalam kondisi politik dan kemasyarakatan kerajaan Majapahit dan kerajaan-kerajaan di sekitarnya pada masa itu, akhirnya menjadi sebab runtuhnya kerajaan Majapahit. Semuanya kami serahkan kembali kepada para pembaca.


Makna Penampakan Komet

Tradisi Jawa memiliki semacam primbon atau ilmu mengartikan makna penampakan komet di langit berdasarkan arah kemunculan komet tersebut. Secara umum, penampakan komet membawa hal yang kurang baik, kecuali apabila komet tersebut muncul di arah barat. Dikutip dari buku Sejarah Kutha Sala: Kraton Sala, Bengawan Sala, Gunung Lawu karya R.M. Ng. Tiknopranoto dan R. Mardisuwignya, makna kemunculan komet dapat diartikan sebagai berikut:

Timur
Arah dan Makna:
Yen ana lintang kemukus metu ing: Wetan, ngalamat ana ratu sungkawa. Para nayakaning praja padha ewuh pikirane. Wong desa akeh kang karusakan lan susah atine. Udan deres. Beras pari murah, emas larang.
Terjemahan:
Jika ada bintang berekor muncul di sebelah timur merupakan pertanda ada raja sedang berbela sungkawa. Para pengikutnya sedang bingung pikirannya. Orang desa banyak mengalami kerusakan dan bersusah hatinya. Beras dan padi murah harganya, tetapi emas akan mahal harganya.

Tenggara

Arah dan Makna:
Kidul-wetan: ngalamat ana ratu surud (seda). Wong desa akeh kang ngalih, udan arang. Woh2an akeh kang rusak. Ana pagebluk, akeh wong lara lan wong mati. Beras pari larang. Kebo sapi akeh kang didoli.
Terjemahan:
Tenggara. Pertanda ada raja meninggal. Orang desa banyak yang pindah. Hujan menjadi jarang. Buah-buahan banyak yang rusak. Ada wabah penyakit. banyak orang sakit dan meninggal. Beras dan padi mahal. Kerbau dan sapi banyak yang dijual oleh pemiliknya.

Selatan

Arah dan Makna:
Kidul: ngalamate ana ratu surud (seda). Para panggedhe pada susah atine. Akeh udan. Karang kitri wohe ndadi.Beras pari, kebo sapi murah regane. Wong desa pada nalangsa atine, ngluhurake panguwasane Pangeran kang Maha Suci.
Terjemahan:
Selatan. Pertanda ada raja meninggal. Para pembesar sedang bersusah hatinya. Banyak hujan. Hasil kebun melimpah hasilnya. Beras, padi, kerbau, dan sapi murah harganya. Orang desa merana hatinya, mengagungkan kekuasaan Tuhan Yang Maha Suci.

Barat Daya

Arah dan Makna:
Kidul Kulon, ngalamat ana ratu surud. Wong desa padha nindakake kabecikan. Beras pari murah. Karang kitri wohe ndadi. Kebo sapi akeh kang mati.
Terjemahan:
Barat daya. Pertanda ada raja meninggal. Orang desa melakukan kebajikan. Beras dan padi murah harganya. Hasil kebun berlimpah ruah. Kerbau dan sapi banyak yang mati.

Barat

Arah dan Makna:
Kulon bener, ngalamat ana jumenengan Ratu. Panggede lan wong desa padha bungah atine. beras pari murah. Apa kang tinandur padha subur, kalis ing ama. Udan deres tur suwe. Barang dagangan wujud apa bae padha murah regane, jalaran saka oleh nugrahaning Pangeran.
Terjemahan:
Barat. Pertanda ada penobatan Raja. Pembesar dan orang desa merasa senang hatinya. Beras dan padi murah harganya. Apa yang ditanam akan berbuah subur dan cepat membuahkan hasil. Hujan deras dan lama. Barang yang diperjual-belikan dalam bentuk apa saja akan murah harganya, karena memperoleh berkah Tuhan.

Barat Laut

Arah dan Makna:
Lor kulon, ngalamat ana Ratu pasulayan, rebutan raja darbeke lan pangwasane. Para Adipati padha tukaran rebut bener. Wong desa padha sedhih atine. Kebo sapi akeh kang mati. udan lan gludhug salah mangsa. Grahana marambah-rambah tur suwe. Beras pari larang emas murah.
Terjemahan:
Barat laut. Pertanda ada raja berselisih memperebutkan kekuasaan. Para adipat berselisih memperebutkan kekuasaan. Warga desa bersedih hatinya. Kerbau dan sapi banyak yang mati. Hujan dan petir akan terjadi di musim yang salah. Kekurangan (gerhana) akan semakin meluas dan berjangka waktu lama. Beras dan padi akan mahal harganya, namun emas murah harganya.

Utara

Arah dan Makna:
Lor bener: ngalamat ana Ratu ruwet panggalihe jalaran saka kisruh paprentahane, kang temahan nganakake pasulayan, banjur dadi perang. beras pari larang, emas murah.
Terjemahan:
Utara: pertanda ada raja yang kalut pikirannya karena kekeruhan dalam pemerintahan. Akan timbul perselisihan yang berkembang menjadi peperangan. Beras dan padi mahal harganya, namun emas murah.

Penutup

Riset yang saya lakukan untuk membuat tulisan ini merupakan pencarian pribadi saya atas sebab ketakutan saya di masa kecil. Apabila dilihat dari cerita keris pusaka dan juga primbon Jawa, tidak mengherankan bahwa kemunculan komet Halley di tahun 1986 membuat masyarakat di sekitar tempat tinggal saya di sebuah kota kecil di Jawa menggali kembali budaya dan tradisi nenek moyang mereka. Masyarakat Jawa yang pada masa itu sebagian masih berpola pikir tradisional tentunya akan langsung kembali kepada tradisi turun temurun untuk menjelaskan fenomena alam yang luar biasa ini.

Meskipun demikian, kemajuan sains telah membuka sebagian dari misteri komet. Diluncurkannya misi Rosetta oleh European Space Agency (ESA) untuk mengorbit dan mendaratkan robot lander Philae di komet 67P/Churyumov-Gerasimenko adalah terobosan terbaru dunia sains untuk memahami lebih dalam segala sesuatu tentang komet. Sungguh beruntung kita hidup di masa eksplorasi ruang angkasa!

Penulis: Ni Nyoman Ayu Cinde Dhitasari


Super Saturnus dengan Cincin Super Raksasa

October 17, 2015 Add Comment
Para astronom telah menemukan sebuah sistem cincin planet dengan proporsi yang sangat besar sehingga membuat cincin Saturnus terlihat kecil. Cincin-cincin telah terbentuk disekitar sebuah planet raksasa muda bernama J1407b, dan mereka adalah sistem cincin yang pertama yang ditemukan di luar tata surya kita.

Ilustrasi J1407b

Cincin pertama kali ditemukan pada tahun 2012, berkat tim yang dipimpin oleh Eric Mamajek dari University of Rochester di Amerika Serikat, tapi saat itu, mereka tidak memiliki cara untuk mengetahui seberapa besar cincin itu. Setelah tim pertama bekerja sama dengan para peneliti yang dipimpin oleh Matthew Kenworthy di Leiden Observatory di Belanda untuk menganalisis 30 cincin individu J1407b, akhirnya diketahui skala sebenarnya dari keindahan konsentris ini.

Ternyata, masing-masing cincin berdiameter puluhan juta kilometer dan kesenjangan antara cincin menunjukkan bahwa beberapa satelit - atau 'eksomoon' - telah terbentuk di sana, seperti banyak bulan kecil Saturnus. Diameter sistem cincin secara keseluruhan adalah sekitar 120 juta kilometer.

"Planet J1407b sendiri jauh lebih besar dari Jupiter atau Saturnus, dan sistem cincin adalah sekitar 200 kali lebih besar dari cincin Saturnus hari ini", kata Mamajek dalam siaran pers universitas. "Anda bisa menganggapnya sebagai semacamSuper Saturnus."

Planet ini terlalu jauh untuk dilihat cincinnya secara langsung, jadi tim menganalisis data yang diambil oleh proyek SuperWASP  dengan menggunakan metode transit - survei yang yang mendeteksi gas raksasa yang bergerak di depan bintang induknya dan meredupkan cahaya mereka (seperti sebuah 'gerhana'). Pada tahun 2012, Mamajek melihat gerhana aneh bergerak di depan bintang muda, yang disebut J1407, dan menyarankan bahwa mungkin gerhana aneh tersebut disebabkan oleh disk pembentuk bulan yang terbentuk di sekitar planet muda pendamping.

Sekarang, dengan menggunakan teknik pencitraan seperti spektroskopi Doppler untuk memperkirakan massa objek bercincin, para peneliti Rochester dan Leiden Observatory telah mendukung klaim ini, mengatakan bahwa bintang J1407 mungkin memiliki pendamping bercincin, yang mereka sebut J1407b.

"Rincian yang kita lihat dalam kurva cahaya, sungguh luar biasa. Gerhana berlangsung selama beberapa minggu, tetapi Anda melihat perubahan yang cepat pada skala waktu puluhan menit sebagai akibat dari struktur halus cincin," kata Kenworthy. "Bintang ini terlalu jauh, sehingga cincin-cincin tak dapat diamati secara langsung, tapi kita bisa membuat model rinci berdasarkan variasi kecerahan yang cepat dalam cahaya bintang saat melewati sistem cincin. Jika kita bisa mengganti cincin Saturnus dengan cincin  J1407b, mereka akan mudah terlihat di malam hari dan akan jauh lebih besar dari bulan purnama".

Ilustrasi jika  Saturnus diganti oleh J1407b, maka akan mudah dilihat di langit kita

Para peneliti juga menemukan bahwa sistem cincin Saturnus super ini mungkin mengandung massa sekitar massa Bumi, mengambang di partikel debu. "Jika kita menggiling empat bulan besar Jupiter menjadi debu dan es dan menyebar materi sepanjang orbitnya dalam sebuah cincin di sekeliling Jupiter, cincin akan begitu buram sehingga akan menghalangi cahaya. Saat cincin melintas di depan matahari, maka akan terjadi gerhana berhari-hari bagi pengamat jauh, "kata Mamajek. "Dalam kasus J1407, kita melihat cincin memblokir sebanyak 95 persen dari cahaya bintang muda seperti matahari ini hingga berhari-hari, sehingga ada banyak material disana yang kemudian bisa membentuk satelit."

Dalam data, para astronom menemukan setidaknya ada satu celah bersih dalam struktur cincin. "Salah satu penjelasan adalah bahwa ada satelit terbentuk dan mengukir celah ini," kata Kenworthy. "Massa satelit bisa antara Bumi dan Mars. Satelit akan memiliki periode orbit sekitar dua tahun mengelilingi J1407b."

3 Skenario Kiamat Alam Semesta

September 30, 2015 Add Comment

Para fisikawan teoritis percaya bahwa alam semesta bisa berakhir suatu hari nanti – dan proses ini mungkin telah dimulai. Namun tidak ada yang tahu pasti bagaimana hal itu akan terjadi, ada tiga teori terkemuka yang dijuluki Big Rip, Big Freeze dan Big Crunch, yang mungkin salah satunya adalah skenario akhir alam semesta kita.
Seperti yang dikutip dari versesofuniverse.blogspot.com, Saat ini sebuah kelompok yang berbasis di Munich, yang disebut Kurzgesagt, telah membuat video yang tentang bagaimana 3 teori ini menjelaskan akhir alam semesta.

1. Big Rip

Menurut skenario ‘big rip’, alam semesta akan terus mengembang dan laju pengembangannya semakin cepat tiap harinya. Dr Mat Pier dari Universitas Portmouth menjelaskan bahwa ekspansi atau pengembangan alam semesta ketika masih muda diperlambat oleh pengaruh gravitasi. Namun dalam kurun waktu 5 miliar tahun terakhir, alam semesta mulai mengembang dengan sangat cepat akibat kekuatan misterius yang para ilmuwan sebut ‘energi gelap’.
Lama kelamaan alam semesta diprediksi akan mengembang tak terkendali dengan laju setara kecepatan cahaya. Imbasnya, galaksi, bintang, hingga planet seakan tercabik-cabik hingga musnah tak tersisa.

2. Big Freeze

Menurut skenario big freeze atau juga sering disebut Heat Death, materi perlahan akan meluruh menjadi radiasi seiring alam semesta yang terus mengembang. Setelah triliunan tahun, bahkan atom yang membentuk materi yang tersisa akan mulai terdegradasi dan berdisintegrasi.
Bintang-bintang akan menua dan hancur, lubang hitam akan menguap dan akhirnya bahkan partikel cahaya akan lenyap.

3. Big Crunch dan Big Bounce

Skenario big crunch adalah kebalikan dari big rip. Jika energi gelap tidak sebanyak yang kita pikirkan saat ini atau jumlahnya menurun dari waktu ke waktu, gravitasi akan menjadi kekuatan yang mendominasi di alam semesta satu hari nanti.
Akibatnya laju ekspansi alam semesta akan melambat dan berhenti. Setelah itu, ia berbalik. Alam semesta akan menyusut dan terus menyusut. Galaksi akan bertabrakan dan bergabung seiring alam semesta menjadi lebih kecil dan lebih kecil.
Karena alam semesta yang lebih kecil juga berarti alam semesta yang panas, suhu meningkat di mana-mana sekaligus.
Seratus ribu tahun sebelum big crunch, radiasi latar belakang akan lebih panas dari permukaan bintang yang paling panas, yang berarti bahwa mereka akan dibakar dari luar.
Menit-menit sebelum big crunch terjadi, inti atom akan terkoyak sebelum lubang hitam super masif melahap semuanya.

Akhirnya, semua lubang hitam akan muncul sebagai mega lubang hitam tunggal super masif yang berisi seluruh massa alam semesta dan di saat-saat terakhir sebelum big crunch, lubang hitam tersebut melahap seluruh alam semesta, termasuk dirinya sendiri.
Teori big crunch biasanya diikuti oleh teori big bounce yang menyatakan bahwa alam semesta telah melalui siklus pengembangan dan penyusutan berkali-kali. Artinya setiap pengembangan yang diawali oleh big bang akan diikuti oleh penyusutan yang diakhiri oleh big crunch dan siklus tersebut berulang terus menerus. dan tiap alam semesta yang tercipta tak perlu sama dengan alam semesta sebelumnya atau sesudahnya.

Menariknya, teori big bang dan pengembangan alam semesta serta teori penyusutan alam semesta dan big crunch ini mirip dengan beberapa tafsiran dari ayat-ayat Al-Quran, seperti yang dapat andabaca disini

Proses Terbentuknya Bintang Di Cluster Galaksi

June 23, 2015 Add Comment
Galaksi NGC 1275 


Dalam beberapa tahun terakhir, astronom telah menemukan beberapa bintang baru yang lahir setiap tahunnya di galaksi Bima Sakti. Para ilmuwan dari MIT dan Michigan State University telah menyatukan teori yang menjelaskan bagaimana kelompok atau cluster galaksi dapat membentuk bintang.

Hasil studi ini diterbitkan dalam jurnal Nature edisi Maret 2015, mereka menjelaskan ketika gas intracluster mendingin dengan cepat, mengembun, dan kemudian runtuh maka akan terbentuk bintang baru. Ilmuwan menduga bahwa sesuatu seharusnya menjaga gas tetap mendingin untuk melahirkan lebih banyak bintang, dimana semua ini masih tetap menjadi misteri.


Kelahiran Bintang Di Cluster Galaksi


Menurut ilmuwan, di beberapa cluster galaksi, gas intracluster bisa menjadi terlalu panas yang bisa saja mencapai ratusan juta derajat Celsius. Bahkan jika satu daerah mengalami pendinginan, intensitas panas disekitarnya akan tetap menjaga wilayah itu mengalami pendinginan lebih lanjut, efek ini disebut sebagai konduksi.


Menurut Michael McDonald, pada suhu super-tinggi, konduksi mendistribusikan temperatur sehingga tidak ada awan dingin yang seharusnya membentuk bintang. Inti dingin cluster galaksi, gas yang berdekatan dengan pusat galaksi mungkin cukup dingin untuk membentuk beberapa bintang. Tetapi sebagian gas yang didinginkan bisa saja masuk ke dalam pusat lubang hitam, kemudian mengeluarkan material panas yang berfungsi untuk memanaskan lingkungan, mencegah terbentuknya bintang.


Alam semesta terdapat dua kelas cluster galaksi yaitu cluster inti dingin yang cepat mendinginkan dan membentuk bintang, dan kelompok inti non-dingin yang tidak memiliki cukup waktu untuk mendinginkan. Coma cluster non-dingin, diisi dengan gas pada suhu 100 juta derajat Celsius untuk membentuk bintang-bintang, dimana gas ini harus dingin selama beberapa miliar tahun. Sebaliknya, Perseus cluster didekatnya merupakan cluster inti dingin dimana gas intracluster bersuhu juta derajat Celsius dianggap relatif ringan. Bintang baru terkadang lahir dari pendinginan gas di Perseus meskipun tidak yang diprediksikan.

Jumlah bahan bakar untuk pembentukan bintang melebihi 10 kali jumlah bintang, sehingga cluster galaksi ini dianggap kaya bintang. Proses pembentukan bintang membutuhkan beberapa mekanisme untuk mencegah pendinginan gas, alam semesta akan memiliki bintang 10 kali lebih banyak dari yang pernah ditemukan sebelumnya.

Cluster dihitung berdasarkan perilaku gas intracluster, radius galaksi cluster, massa, kepadatan, dan suhu. Ilmuwan mengungkapkan bahwa ada ambang batas temperatur kritis dibawah nilai ini dimana pendinginan gas dipercepat secara signifikan, sehingga menyebabkan gas mendingin cukup cepat untuk membentuk bintang.


Menurut teori cluster, dua mekanisme berbeda berfungsi mengatur pembentukan bintang, tergantung pada cluster galaksi yang berada diatas atau dibawah niai suhu ambang batas. Cluster yang signifikan diatas ambang batas, konduksi menempatkan peredam pada pembentukan bintang. Yaitu disekitar gas panas yang menguasai setiap wilayah gas dingin yang dapat membentuk dan menjaga segala sesuatu di cluster pada suhu tinggi.


Cluster panas terjebak dalam keadaan panas dan tidak akan pernah terbentuk bintang. Setelah memasuki kebagian suhu sangat tinggi, pendinginan menjadi tidak efisien dan terjebak panas selamanya. Sementara gas bersuhu mendekati batas bawah jauh lebih mudah dingin untuk membentuk bintang. Dalam Cluster ini, umpan balik presipitasi-driven mulai mengatur pembentukan bintang. Sementara gas pendingin dengan cepat mengembun menjadi tetesan awan yang dapat membentuk bintang.


Tetesan awan bisa saja masuk kedalam pusat lubang hitam, dimana lubang hitam dapat memancarkan jet panas kembali ke cluster. Jet panas memanaskan gas disekitarnya untuk mencegah pembentukan bintang. Para ilmuwan membandingkan kerangka teoretis untuk mengamati cluster galaksi yang jauh dan menemukan bahwa teori ini sesuai dengan perbedaan yang diamati antara cluster.


Imuwan membandingkan kerangka teoritis mereka dengan gas disetiap gugus galaksi yang dikenal mengalami pendinginan. Cluster ini dibagi menjadi dua populasi yaitu cluster pendinginan sangat lambat dan cluster pendinginan cepat. Dengan menggunakan kerangka teoritis, ilmuwan dapat memprediksi evolusi cluster galaksi dan bintang-bintang yang dilahirkan. Mereka berharap menganilisis lebih dalam teori ini untuk melihat apakah mekanisme yang mengatur pembentukan bintang di cluster juga berlaku untuk galaksi tunggal.

Lubang Hitam Supermasif Memakan Galaksi

April 20, 2015 Add Comment
Atacama Large Millimeter / submillimeter Array (ALMA) telah mengungkapkan medan magnet yang sangat kuat, melebihi apa yang sebelumnya terdeteksi di inti galaksi, sangat dekat dengan cakrawala peristiwa lubang hitam supermasif. Pengamatan baru ini membantu para astronom untuk memahami struktur dan formasi dari pusat lubang hitam besar di pusat galaksi, dan kecepatan tinggi dari plasma kembar yang sering dikeluarkan dari kutubnya. Hasil pengamatan muncul dalam 17 April 2015 di jurnal Science.

Sampai saat ini, medan magnet yang lemah jauh dari lubang hitam - beberapa tahun cahaya - telah diselidiki. Dalam studi ini, bagaimanapun, astronom dari Chalmers University of Technology dan Onsala Space Observatory di Swedia menggunakan ALMA untuk mendeteksi sinyal langsung yang berhubungan dengan medan magnet yang kuat dan sangat dekat dengan cakrawala peristiwa lubang hitam supermasif di galaksi yang jauh bernama PKS 1830-211 . Medan magnet ini terletak tepat di tempat di mana materi tiba-tiba didorong menjauh dari lubang hitam dalam bentuk kecepatan yang sangat tinggi.




Medan magnet dari bintang dapat diukur dengan cara efek Zeeman. Biasanya atom di atmosfer sebuah bintang akan menyerap frekuensi tertentu energi dalam spektrum elektromagnetik, menghasilkan garis penyerapan gelap dengan karakteristik dalam spektrum. Ketika atom berada dalam medan magnet, garis-garis ini dibagi menjadi beberapa garis berjarak dekat. Energi ini juga menjadi terpolarisasi dengan orientasi yang tergantung pada orientasi medan magnet. Dengan demikian kekuatan dan arah medan magnet bintang dapat ditentukan dengan pemeriksaan garis efek Zeeman.

Lubang hitam supermasif, yang memiliki massa miliaran kali dari Matahari, terletak di jantung hampir semua galaksi di alam semesta. Lubang hitam dapat mengumpulkan sejumlah besar materi dalam bentuk cakram/disk akresi sekitarnya. Sementara sebagian besar dari hal ini dimasukkan ke dalam lubang hitam, beberapa dapat terlepas saat sebelum tertangkap dan terlempar ke ruang angkasa mendekati kecepatan cahaya sebagai bagian dari jet plasma. Bagaimana ini terjadi belum dipahami dengan baik, meskipun ia berpikir bahwa medan magnet yang kuat, bertindak sangat dekat pada cakrawala peristiwa, memainkan bagian penting dalam proses ini, membantu masalah ini untuk lepas dari lubang kegelapan.

Disk akresi adalah struktur (biasanya disk melingkar) yang dibentuk oleh bahan yang tersebar dalam gerakan orbital sekitar pusat badan besar. Badan pusat biasanya bintang atau lubang hitam besar. Gravitasi menyebabkan materi dalam disk spiral ke dalam menuju badan pusat. Gaya gravitasi dan gesekan kompres dan menaikkan suhu bahan menyebabkan emisi radiasi elektromagnetik. Rentang frekuensi radiasi bergantung pada massa benda pusat.

Tim mengukur kekuatan medan magnet dengan mempelajari cara di mana cahaya terpolarisasi saat bergerak menjauh dari lubang hitam. Polarisasi dapat digunakan untuk mengukur medan magnet, karena cahaya merubah polarisasinya ketika cahaya tersebut berjalan melalui media bermagnet. Cahaya yang dideteksi dengan ALMA telah bepergian melalui materi sangat dekat dengan lubang hitam, tempat yang penuh dengan plasma yang sangat bermagnet.

Lubang hitam dapat mengumpulkan sejumlah materi dalam bentuk disk akresi. Sebagian materi dapat masuk kedalam lubang hitam, beberapa dapat terlepas sesaat sebelum tertangkap dan kemudian terlempar ke ruang angkasa dengan kecepatan mendekati cahaya yang di sebut jet plasma.

Para ilmuwan telah menemukan sinyal yang jelas dari polarisasi yang berotasi yang ratusan kali lebih tinggi dari yang tertinggi yang pernah ditemukan di alam semesta. Para astronom menerapkan teknik analisis baru yang mereka telah kembangkan untuk data ALMA dan menemukan bahwa arah polarisasi radiasi datang dari pusat PKS 1830-211 yang telah berputar. Ini adalah gelombang terpendek yang pernah digunakan dalam studi semacam ini, yang memungkinkan daerah yang sangat dekat dengan lubang hitam di pusat untuk diperiksa. Hasil ini, dan studi masa depan, akan membantu kita memahami apa yang sebenarnya terjadi di sekitar lubang hitam supermasif.

Alam Semesta Tanpa Awal dan Akhir, Tidak Ada Big Bang!

February 26, 2015 Add Comment
Salah satu model teori yang baru-baru ini diungkapkan ilmuwan, bahwa alam semesta mungkin telah ada selamanya tanpa Big Bang. Teori ini didasarkan menurut model yang berlaku dalam koreksi kuantum untuk melengkapi teori relativitas Einstein. Teori ini menjelaskan materi gelap dan energi gelap, bahkan menurut ilmuwan akan menyelesaikan beberapa masalah sekaligus tentang misteri alam semesta. 

Model ini menghindari singularitas karena perbedaan utama antara Geodesics klasik dan lintasan Bohmian. Geodesics klasik umumnya berpengaruh saling silang, dan titik pertemuannya adalah singularitas. Sebaliknya, lintasan Bohmian tak pernah saling silang sehingga singularitas tidak muncul dalam persamaan. Para ilmuwan menuliskan hasil analisa ini dalam sebuah makalah, diterbitkan dalam jurnal Physics Letters B, mereka menjelaskan singularitas Big Bang dapat diatasi dengan model hipotesis baru dimana alam semesta tidak memiliki awal dan akhir.

Alam Semesta Tanpa Awal Dan Akhir


Sejak kapan alam semesta tercipta? Secara luas telah diperkirakan melalui model relativitas umum berkisar 13,8 miliar tahun. Pada awalnya, segala sesuatu diperkirakan berasal dari satu titik padat tak terhingga atau singularitas. Dan titik ini mulai berkembang atau disebut Big Bang yang kemudian berkembang menjadi alam semesta. 

Meskipun singularitas Big Bang muncul secara langsung dan tak terhindarkan dari matematika relativitas umum, beberapa ilmuwan menganggapnya bermasalah, karena matematika hanya menjelaskan apa yang terjadi setelah atau sebelum singularitas. Menurut Ahmed Farag Ali, ilmuwan dari Benha University - Zewail City of Science and Technology, singularitas Big Bang merupakan masalah yang paling serius dalam menyikapi relativitas umum. Karena hukum fisika muncul untuk mengungkap fakta yang terjadi ketika awal itu berlangsung.

alam semesta

Dalam hal ini, fisikawan menekankan istilah koreksi kuantum tidak menerapkan 'Ad Hoc' yang secara khusus bisa menghilangkan singularitas Big Bang. Analisis ini didasarkan pada ide fisikawan teoritis, David Bohm, sosok yang dikenal berkontribusi dalama filosofi fisika. Bohm sudah memulai karirnya sejak tahun 1950-an dimana dia mengganti Geodesics Klasik dengan lintasan kuantum, jalur terpendek antara dua titik pada permukaan melengkung.

Meskipun bukan teori gravitasi kuantum, model teori ini tidak mengandung unsur-unsur dari kedua teori kuantum dan relativitas umum. Para ilmuwan mengharapkan hasil analisa bisa digunakan seterusnya, bahkan jika teori gravitasi kuantum telah dirumuskan. Selain itu, hipotesis ini tidak memprediksi singularitas Big Bang, tidak memprediksi krisis besar dalam singularitas. Dalam relativitas umum, salah satu kemungkinan bahwa alam semesta mulai menyusut sampai runtuh sendiri dalam krisis besar dan kembali menjadi titik padat tak terhingga.
Penjelasan teori ini secara kosmologis, bahwa koreksi kuantum dianggap sebagai istilah kosmologis konstan dan radiasi, tanpa perlu energi gelap. Istilah ini menetapkan ukuran terbatas alam semesta dan memberikan usia yang tak terbatas. Istilah ini menghasilkan prediksi yang mendukung pengamatan konstanta kosmologi dan kepadatan alam semesta.

Model ini menggambarkan alam semesta berisi cairan kuantum, menurut ilmuwan bahwa cairan ini mungkin terdiri dari Graviton, hipotetis partikel tak bermassa yang berfungsi sebagai mediasi gaya gravitasi. Jika graviton benar-benar ada, maka cairan ini berperan penting dalam teori gravitasi kuantum. Graviton dapat membentuk kondensat Bose-Einstein pada suhu yang dihasilkan alam semesta sepanjang periode.  

Ilmuwan menerapkan lintasan Bohmian untuk persamaan yang dikembangkan pada tahun 1950 oleh fisikawan Amal Kumar Raychaudhuri dari Presidency University-India. Dengan menggunakan persamaan kuantum yang telah dikoreksi Raychaudhuri, Ali dan Saurya Das menggunakan persamaan kuantum Friedmann. Analisa ini menggambarkan ekspansi dan evolusi alam semesta dalam konteks relativitas umum, termasuk Big Bang. 

Para fisikawan berencana untuk menganalisis model materi gelap dan energi gelap dimasa depan, termasuk mengulangi studi ini dengan memperhatikan gangguan pada homogen dan anisotropik, tetapi berharapn gangguan kecil ini akan mempengaruhi hasil.

Referensi


No Big Bang? Quantum equation predicts universe has no beginning, 09 February 2015, by Phys org. 
Journal Ref: Cosmology from quantum potential. Physics Letters B Volume 741, 4 February 2015, Pages 276–279. DOI: 10.1016/j.physletb.2014.12.057.


Sumber : isains.com/

Bumi Super Terdeteksi Teleskop Darat Bersuhu 1700 Celcius

February 14, 2015 Add Comment
Untuk pertama kalinya, astronom berhasil mengukur bumi super disekitar bintang dilangit yang cerah dengan menggunakan teleskop berbasis darat. Planet ekstrasurya ini disebut '55 Cancri e' yang pernah terdeteksi sebelumnya. Transit ini merupakan langkah pertama dalam menganalisis atmosfer planet, keberhasilan ini menjadi pertanda baik untuk mencirikan beberapa planet kecil dalam misi ruang angkasa yang akan datang.

Tim ilmuwan menggunakan perangkat Nordic Optical Telescope 2,5 meter di pulau La Palma, Spanyol. Fasilitas ini berukuran sedang dengan standar yang digunakan pada umumnya, tetapi dilengkapi dengan instrumen 'state-of-the-art' agar mampu mendeteksi. Hasil temuan ini muncul dalam sebuah makalah yang akan diterbitkan dalam jurnal The Astrophysical Journal Letters edisi mendatang.

Transit Bumi Super Terdeteksi Selama 2 Jam


Bintang induk 55 Cancri berjarak sekitar 40 tahun cahaya dari Bumi dan terlihat dengan mata telanjang. Selama periode transit, planet melintasi bintang 55 Cancri dan sebagian kecil cahaya bintang terlihat meredup 1/2000 atau 0,05 persen selama hampir dua jam. Fenomena ini membuktikan bahwa planet 55 Cencri e berukuran sekitar dua kali Bumi atau berdiameter 16000 mil.

Menurut Ernst de Mooij dari Universitas Queen Belfast di Inggris, pengamatan menunjukkan bahwa mereka mendeteksi transit planet kecil disekitar bintang seperti Matahari menggunakan teleskop berbasis darat. Hal ini sangat penting, karena misi luar angkasa mendatang (TESS dan satelit PLATO) harus menemukan lebih banyak planet kecil disekitar bintang terang agar dapat ditindaklanjuti dengan menggunakan instrumen berbasis darat.

bumi super

Dikabarkan bahwa NASA akan menjadwalkan peluncuran TESS pada tahun 2017, sedangkan European Space Agency akan meluncurkan satelit teleskop PLATO pada tahun 2024, dimana keduanya akan mencari transit planet terestrial disekitar bintang terang. Melalui data yang terhimpun dari satelit tersebut, diharapkan ilmuwan bisa mendeteksi atmosfer planet kecil melalui teleskop berbasis darat. Dan tentunya akan berdampak pada penemuan tanda-tanda biologis planet mirip Bumi disekitar bintang.

Penemuan ini sangat luar biasa dari yang pernah dilakukan sebelumnya dengan menggunakan batas maksimal teleskop dan instrumen yang ada. Penginderaan jauh berjarak puluhan tahun cahaya bukanlah hal yang mudah, tapi bisa dilakukan dengan teknik yang tepat dan sedikit kecerdikan. 
Planet 55 Cancri e berukuran sekitar dua kali lebih besar dan delapan kali massa Bumi. Dengan jangka waktu 18 jam, pengamatan ini merupakan yang terjauh dari lima planet dalam sistem tatasurya. Diperkirakn suhu harian Bumi super mencapai lebih dari 3100 derajat Fahrenheit atau berkisar 1700 derajat Celsius, cukup panas untuk melelehkan logam. 

Pada awalnya planet ektrasurya telah diidentifikasi sejak satu dekade yang lalu melalui pengukuran kecepatan radial, kemudian dikonfirmasi melalui pengamatan transit dengan teleskop ruang angkasa Spitzer dan MOST. Sampai saat ini, Bumi Super GJ 1214b dianggap satu-satunya transit planet ekstrasurya, dimana GJ 1214b yang mengelilingi katai merah telah diamati melalui teleskop berbasis darat. 

Tetapi perubahan cuaca dipermukaan bumi membuat pengamatan sangat sulit, dan kesuksesan pendeteksian planet bumi super 55 Cancri e memiliki prospek temuan puluhan Bumi Super dimasa yang akan datang. Para astronom berharap, melalui survei ini nantinya akan menemukan banyak planet ekstrasurya, teleskop ruang angkasa tidak akan mampu menindaklanjuti keseluruhan data. Dan dimasa depan, instrumen teleskop  akan menjadi kunci, dimana studi ini menunjukkan semua kemungkinan tersebut. 


Sumber : isains.com