Alam Semesta Tanpa Awal dan Akhir, Tidak Ada Big Bang!

February 26, 2015
Salah satu model teori yang baru-baru ini diungkapkan ilmuwan, bahwa alam semesta mungkin telah ada selamanya tanpa Big Bang. Teori ini didasarkan menurut model yang berlaku dalam koreksi kuantum untuk melengkapi teori relativitas Einstein. Teori ini menjelaskan materi gelap dan energi gelap, bahkan menurut ilmuwan akan menyelesaikan beberapa masalah sekaligus tentang misteri alam semesta. 

Model ini menghindari singularitas karena perbedaan utama antara Geodesics klasik dan lintasan Bohmian. Geodesics klasik umumnya berpengaruh saling silang, dan titik pertemuannya adalah singularitas. Sebaliknya, lintasan Bohmian tak pernah saling silang sehingga singularitas tidak muncul dalam persamaan. Para ilmuwan menuliskan hasil analisa ini dalam sebuah makalah, diterbitkan dalam jurnal Physics Letters B, mereka menjelaskan singularitas Big Bang dapat diatasi dengan model hipotesis baru dimana alam semesta tidak memiliki awal dan akhir.

Alam Semesta Tanpa Awal Dan Akhir


Sejak kapan alam semesta tercipta? Secara luas telah diperkirakan melalui model relativitas umum berkisar 13,8 miliar tahun. Pada awalnya, segala sesuatu diperkirakan berasal dari satu titik padat tak terhingga atau singularitas. Dan titik ini mulai berkembang atau disebut Big Bang yang kemudian berkembang menjadi alam semesta. 

Meskipun singularitas Big Bang muncul secara langsung dan tak terhindarkan dari matematika relativitas umum, beberapa ilmuwan menganggapnya bermasalah, karena matematika hanya menjelaskan apa yang terjadi setelah atau sebelum singularitas. Menurut Ahmed Farag Ali, ilmuwan dari Benha University - Zewail City of Science and Technology, singularitas Big Bang merupakan masalah yang paling serius dalam menyikapi relativitas umum. Karena hukum fisika muncul untuk mengungkap fakta yang terjadi ketika awal itu berlangsung.

alam semesta

Dalam hal ini, fisikawan menekankan istilah koreksi kuantum tidak menerapkan 'Ad Hoc' yang secara khusus bisa menghilangkan singularitas Big Bang. Analisis ini didasarkan pada ide fisikawan teoritis, David Bohm, sosok yang dikenal berkontribusi dalama filosofi fisika. Bohm sudah memulai karirnya sejak tahun 1950-an dimana dia mengganti Geodesics Klasik dengan lintasan kuantum, jalur terpendek antara dua titik pada permukaan melengkung.

Meskipun bukan teori gravitasi kuantum, model teori ini tidak mengandung unsur-unsur dari kedua teori kuantum dan relativitas umum. Para ilmuwan mengharapkan hasil analisa bisa digunakan seterusnya, bahkan jika teori gravitasi kuantum telah dirumuskan. Selain itu, hipotesis ini tidak memprediksi singularitas Big Bang, tidak memprediksi krisis besar dalam singularitas. Dalam relativitas umum, salah satu kemungkinan bahwa alam semesta mulai menyusut sampai runtuh sendiri dalam krisis besar dan kembali menjadi titik padat tak terhingga.
Penjelasan teori ini secara kosmologis, bahwa koreksi kuantum dianggap sebagai istilah kosmologis konstan dan radiasi, tanpa perlu energi gelap. Istilah ini menetapkan ukuran terbatas alam semesta dan memberikan usia yang tak terbatas. Istilah ini menghasilkan prediksi yang mendukung pengamatan konstanta kosmologi dan kepadatan alam semesta.

Model ini menggambarkan alam semesta berisi cairan kuantum, menurut ilmuwan bahwa cairan ini mungkin terdiri dari Graviton, hipotetis partikel tak bermassa yang berfungsi sebagai mediasi gaya gravitasi. Jika graviton benar-benar ada, maka cairan ini berperan penting dalam teori gravitasi kuantum. Graviton dapat membentuk kondensat Bose-Einstein pada suhu yang dihasilkan alam semesta sepanjang periode.  

Ilmuwan menerapkan lintasan Bohmian untuk persamaan yang dikembangkan pada tahun 1950 oleh fisikawan Amal Kumar Raychaudhuri dari Presidency University-India. Dengan menggunakan persamaan kuantum yang telah dikoreksi Raychaudhuri, Ali dan Saurya Das menggunakan persamaan kuantum Friedmann. Analisa ini menggambarkan ekspansi dan evolusi alam semesta dalam konteks relativitas umum, termasuk Big Bang. 

Para fisikawan berencana untuk menganalisis model materi gelap dan energi gelap dimasa depan, termasuk mengulangi studi ini dengan memperhatikan gangguan pada homogen dan anisotropik, tetapi berharapn gangguan kecil ini akan mempengaruhi hasil.

Referensi


No Big Bang? Quantum equation predicts universe has no beginning, 09 February 2015, by Phys org. 
Journal Ref: Cosmology from quantum potential. Physics Letters B Volume 741, 4 February 2015, Pages 276–279. DOI: 10.1016/j.physletb.2014.12.057.


Sumber : isains.com/

Share this

Lahir di Padang, Sumatera Barat pada akhir tahun 1993, blogger rupawan ini lebih dikenal dengan nickname hideatsa. Memiliki kredibilitas yang mumpuni dalam bidang copy-paste. Meskipun tampan, ia juga baik hati dan tidak sombong.

Related Posts